Saturday, 22 Jun 2024

5 Penyebab Depresi Yang Harus Kamu Hindari

6 minutes reading
Wednesday, 29 Nov 2023 05:45 0 177 Sela Rahma

Nesiaverse.com – Salah satu gangguan kesehatan mental yang kerapkali dialami kebanyakan orang adalah depresi. Bahkan di generasi Z sekarang, banyak sekali anak-anak muda atau remaja sudah mengalami depresi berat, penyebab depresi sendiri sangat beragam macamnya.

Tergantung kepada siapa depresi itu terjadi, karena setiap permasalahan orang berbeda-beda. Pada umumnya setiap orang pasti memiliki trigger nya tersendiri yang bisa menyebabkan seseorang bisa mengalami depresi. Masih banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut.

Adapun mereka juga tidak mengetahui apa penyebab dirinya bisa sampai depresi. Gangguan kesehatan mental memang tidak bisa dilihat secara pasti dan nyata, sebab menyangkut perasaan seseorang. Perasaan manusia sendiri sangatlah rumit dan tidak bisa kita tebak.

Lalu kalau begitu apa sih penyebab depresi? Nah, disini akan memberikan beberapa penjelasan mengenai penyebab seseorang mengalami depresi secara menyeluruh, agar dapat kamu pahami dengan baik. Jadi langsung saja simak ulasannya di bawah ini dengan seksama!

Penyebab Depresi Yang Harus Kamu Hindari

5 Penyebab Depresi Yang Harus Kamu Hindari

Gangguan suasana hati yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat pada hal-hal yang disukai merupakan salah satu ciri dari depresi. Selama dua minggu, seseorang akan dinyatakan depresi jika mereka terus-terusan merasa sedih, pupus harapan pada keberlangsungan hidupnya, serta merasa dirinya tidak berharga.

Sebenarnya belum ada informasi secara pasti tentang apa yang menyebabkan seseorang mengalami depresi. Namun, para ahli menduga bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai hal, seperti terdapat riwayat keluarga dengan gangguan kesehatan mental, gangguan kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).

Sebelum itu apakah depresi dan stress itu sama? Tentu saja berbeda, depresi sendiri kerap mempengaruhi pikiran, perilaku maupun perasaan seseorang, sehingga menyebabkan ketidakberdayaan, insomnia, perubahan nafsu makan, ataupun masalah fisik yang melanda.

Sementara itu, stress secara garis besar dikenal sebagai respons tubuh seseorang terhadap kondisi tertentu yang mengakibatkan permasalahan pada psikologis maupun fisik. Stress sendiri ada pemicunya, sedangkan depresi dalam beberapa kasus belum ditemukan pemicu yang spesifik.

selain itu depresi ternyata memiliki beberapa bentuk yang diidentifikasi berdasarkan tingkat keparahannya. Mengenal jenis depresi sendiri sangatlah penting untuk dapat lebih memahami sehingga dapat menempatkan diri pada perawatan yang sesuai. Berikut jenis depresi, yaitu:

  • Dysthymia atau gangguan depresi ringan yang berulang adalah kondisi kronis yang ditandai dengan gejala depresi yang terjadi hampir sepanjang hari, lebih banyak hari daripada tidaknya, kurang lebih selama 2 tahun lamanya. Gejalanya sendiri meliputi perasaan sedih, hampa, merasa terpuruk, kurang berminat dalam aktivitas sehari-hari, serta perasaan putus asa. Penderita distimia juga dapat mengalami perubahaan fisik pada otak dan zat kimia otak yang berperan sebagai penyebab depresi. Distimia dapat terjadi pada semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa. Gangguan ini dapat diobati melalui psikoterapi dan obat-obatan, serta pola hidup yang sehat.
  • Seasonal Affective Disorder (SAD) merupakan jenis depresi yang pemicunya berdasarkan pada perubahan musim, terutama ketika suhu udara kian menurun dan jam sinar matahari yang bertahan singkat. Sebab utama yang sering menyebabkan SAD adalah karena kurangnya paparan sinar matahari, perubahaan jam biologis tubuh, serta ketidak seimbangan kimia otak. Pengobatan SAD melibatkan terapi cahaya, psikoterapi, obat-obatan, dan suplementasi vitamin D.
  • Depresi Pasca Kelahiran (POST PARTUM), Gangguan depresi ini merupakan bentuk gangguan suasana hati yang terjadi pada ibu setelah melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada kedua orang tua, baik ibu maupun ayah. Gejala depresi ini meliputi perasaan sedih, kehilangan minat atau kesenangan aktivitas yang pernah dinikmati, perubahan nafsu makan, perubahaan pola tidur, kelelahan dan kesulitan konsentrasi. Biasanya, depresi jenis ini disebabkan oleh perubahan hormon, kurangnya istirahat, maupun permasalahan psikologis. Pengobatannya bisa menggunakan psikoterapi, obat-obatan, serta dukungan dari keluarga maupun teman.

Adapun beberapa penyebab depresi yang umum terjadi, tanpa kamu sadari. Berikut adalah penyebabnya yaitu:

Faktor Genetik atau Riwayat Kesehatan Keluarga

Faktor yang diidentifikasi memiliki keterlibatan, seperti gen dan riwayat kesehatan keluarga, dapat menjadi penyebab depresi, tetapi tidak secara pasti. Sebagian besar penyebab depresi adalah pengalaman pribadi, gaya hidup, dan tempat tinggal seseorang.

Sekitar 40% penderita depresi ternyata memiliki anggota keluarga yang depresi juga. Sedangkan 60% lainnya mengalami depresi karena faktor lingkungan dan faktor lain. Namun, seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua yang menderita depresi berisiko tiga kali lipat mengalami depresi. Wanita lebih rentan terhadap risiko ini daripada pria.

Permasalahan Kesehatan Fisik

Orang yang menderita diabetes, kanker, atau penyakit Parkinson cenderung mengalami depresi. Kesehatan fisik yang buruk dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Selain itu, rasa sakit dan penyakit yang tidak kunjung sembuh berpotensi menyebabkan depresi sebab membuat seseorang menjadi putus asa atas penyakit yang dideritanya.

Pengalaman Buruk dan Trauma

Trauma atau pengalaman masa lalu adalah penyebab depresi berikutnya. Beberapa faktor yang terkait dengan efek trauma pada mental dan emosional seseorang termasuk gangguan kecanduan, PTSD, atau pengalaman traumatis yang dialami oleh anak-anak, seperti pelecehan seksual, perundungan, atau kekerasan dari orang tua, dapat menyebabkan trauma masa kecil.

Dapat berdampak negatif pada perkembangan otak, sehingga berkemungkinan besar mengidap trauma, karena sulit untuk menolak ingatan traumatis, yang akhirnya menyebabkan kebiasaan berpikir negatif. Hal ini berdampak pada perilaku, emosi, dan kesehatan mental seseorang, dan pada akhirnya menyebabkan depresi.

Peristiwa Yang Penuh Tekanan

Beberapa faktor yang terkait dengan dampak suatu peristiwa terhadap kesehatan mental dan emosional seseorang adalah tingkat tekanan tinggi yang dialami seseorang terhadap suatu peristiwa yang dapat menyebabkan depresi.

Peristiwa penuh tekanan seperti trauma, peristiwa yang menyebabkan isolasi sosial, peristiwa yang membuat seseorang menjadi rentan dan tidak percaya diri karena tidak dapat mengatasi keadaan, dan peristiwa yang menyebabkan stres tinggi, cenderung menjadi penyebab terjadinya depresi.

Ketergantungan Pada Obat-Obatan

Ketergantungan pada obat dapat menyebabkan depresi. Depresi dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti gangguan penyalahgunaan zat (SAD). Bagi sebagian orang yang mengalami depresi klinis, depresi dapat menjadi faktor risiko kecanduan obat terlarang.

Meski, tujuan dari obat-obatan terlarang yang digunakan tersebut untuk menenangkan pikiran dan perasaan yang kacau. Namun, mengkonsumsi obat-obatan secara terus menerus dapat menyebabkan efek ketergantungan, sehingga dapat menyebabkan depresi yang semakin parah jika tidak melakukan kebiasaan tersebut lagi.

Orang yang mengalami depresi dan kecanduan obat terlarang dapat mengalami beberapa hal, termasuk perubahan perilaku, penurunan kinerja, bahkan kehilangan pekerjaan, penurunan kemampuan akademik di sekolah, jauh dari agama dan kehidupan sosial, serta bermasalah dengan hukum.

Itulah beberapa penyebab depresi pada seseorang, mungkin perlu untuk kamu ketahui supaya kamu bisa menyadari alasan atau penyebab mengapa kita mengalami depresi. Dengan begitu kamu dapat mencegah depresi makin parah, dan menghindari hal-hal yang membuat depresi.

Jika kamu telah menderita depresi sebaiknya pergi ke dokter, apabila mengalami gejala depresi yang berlangsung selama lebih dari 2 minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Jangan sungkan dan malu untuk meminta pertolongan pada seseorang. Good Luck semoga membantu.